renungan..
Setiap orang besar di dunia ini, yang jalan hidupnya dianuti oleh jutaan banyak orang selama bertahun-tahun, hidup sederhana. Mungkin saja mereka memiliki kesempatan untuk menumpuk harta dan kemakmuran, namun mereka lebih suka mempunyai beberapa lembar pakaian sekedar melindungi tubuh, serta suap roti yang cukup untuk mengganjal perut. Mereka tak khawatir akan masa depan. Mereka percaya akan alam yang teramat baik ini. Mungkin juga mereka memiliki kekuatan untuk memerintah orang lain menuruti apa maunya, namun mereka lebih suka menisik sendiri bajunya yang robek atau membantu memikul beban orang lain. Mereka yakin bahwa hanya bila mereka mampu mengatasi kesulitannya sendiri, mereka layak untuk melayani orang lain. Mereka bersahaja dalam segala hal. Juga dalam cita-cita hidup mereka: menjadikan dunia ini lebih baik bagi seluruh penghuninya. Seekor tupai hanya tinggal dalam satu lubang, meski terdapat ribuan pohon besar di hutan. Seekor zebra hanya meneguk air kubangan secukupnya meski panas terik membakar gurun. Kesederhanaan adalah kekuatan. Sebab saat kita menemukan arti kata cukup, kita memahami makna sebuah kepuaasan.
Kejujuran Tak Pernah Lekang
Bersiaplah selalu untuk menghadapi situasi yang menuntut kejujuran kita. Nasehat agar kita senantiasa berlaku jujur lebih mudah diucapkan daripada kenyataan. Bayangkan seseorang dalam keadaan "terjepit"; bila ia berkata jujur, ia akan kehilangan keuntungan besar yang sudah ada dalam genggamannya. Sebaliknya, bila ia mau sedikit berdusta bukan hanya keuntungan namun juga kebanggaan yang akan diraihnya. Sebenarnya, kejujuran tidak berkaitan dengan untung-rugi. Kejujuran adalah sebuah sikap yang tidak perlu dihitung dengan nilai uang. Kejujuran bukanlah sebuah pilihan. Seseorang melakukan dusta karena ia memilih untuk berdusta. Mengapa dusta adalah pilihan? Karena kita tak bisa menipu diri sendiri. Hati nurani tak bisa dibungkam meski ia hanya berbisik lirik. Pepatah kuno ini tak pernah lekang bagaimana pun majunya sebuah perekonomian: "kejujuran adalah mata uang yang laku dimana-mana." Bawalah sekeping kejujuran dalam saku kita, itu melebihi mahkota raja di raja sekalipun.
Simpati Itu Untuk Diulurkan
Jangan anggap diri kita lebih beruntung hanya karena kita mampu berkendara dalam mobil yang sejuk dan nyaman, sedangkan di luar sana orang berpayah-payah terbakar terik matahari. Memang, secara fisik kita merasakan kenyamanan yang lebih baik. Namun, kita tidak selalu bisa menilai kedalaman batin orang lain. Bahkan, mungkin tidak perlu. Canda tawa mereka yang terengah-engah di trotoar lebih sejuk daripada panasnya udara. Sedangkan, muramnya pikiran kita boleh jadi tak sanggup diredam oleh kenyamanan kendaraan kita. Oleh karena itu, sama sekali tak relevan membandingkan keberuntungan diri sendiri dengan orang lain. Seorang peminta-minta yang menerima sekeping uang logam dengan penuh kegembiraan, kemudian mengucapkan sepatah doa bagi kita, bisa jadi lebih menemukan ketentraman dalam hatinya. Daripada kita yang menggenggam erat sekeping uang logam dalam saku sambil menggerutu tentang kemalasan dan kebodohan. Mungkin, sekeping uang logam yang kita ulurkan takkan mengubah nasib dunia, namun itu mengubah hati kita. Keberuntungan yang kita rasakan adalah untuk diwujudkan dalam bentuk simpati, bukan untuk menjadikan kita merasa lebih baik dari orang lain.
Tinggalkan Angan-angan, Wujudkanlah Dalam Kerja
Seorang bijak pernah berkata bahwa satu-satunya hal yang bisa manusia lakukan sepanjang hari adalah bekerja. Manusia tak dapat makan, minum atau tidur terus-menerus. Namun, manusia dapat bekerja tanpa henti. Bahkan, meski sedang beristirahat sekali pun, seringkali pikiran masih bekerja mencari jawaban-jawaban. Bekerja adalah berkarya. Dan, berkarya adalah mencipta. Sedangkan mencipta adalah milik ke-Maha-Kuasaan yang telah menghamparkan alam raya ini pada manusia. Taklah terlalu keliru bila seorang bijak lain mengatakan bahwa manusia adalah penguasa bumi semesta ini. Karena dengan kekuatan kerjanya, manusia dapat mewujudkan kesejahteraan hidupnya. Dengan bekerja manusia menjadi penting dan dibutuhkan. Manusia ditimbang dari apa yang dikerjakannya. Bila telur mengibaratkan angan-angan, maka pilihlah ayam yang mengibaratkan karya cipta yang terujudkan. Maka, bukan mana yang lebih dahulu keluar: telur atau ayam. Namun, mana yang lebih berharga bagi kesejahteraan hidup kita di bumi ini. Dan, itu semua hanya tercapai melalui bekerja.
sumber http://www.dompetdhuafa.or.id...
